EKSPOR NON MIGAS INDONESIA

Assalamu’alaikum wr.wb dan salam blogger bagi kita semua . Marilah pertama-tama kita ucapkan puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT dengan masih diberikan nikmat sehat dan rahmat yang diberikan-Nya hari ini sehingga kita semua masih dapat beraktivitas ,berkarya ,berkreasi dengan penuh semangat dan bahagia. Dalam penulisan makalah ini , saya akan menjelaskan tentang ekspor non migas Indonesia yang bisa di katakan mengalami increase sejak tahun 2010. Semoga dengan adanya makalah ini kita semua dapat melihat dan mengkoreksi diri khususnya untuk Indonesia agar dapat lebih berkembang dan maju.

 

EKSPOR NON MIGAS INDONESIA


Kinerja perdagangan ekspor nonmigas awal tahun ini menunjukkan sinyal positif. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan ekspor nonmigas Indonesia pada Januari 2011 mencapai US$ 11,9 miliar atau meningkat 29% dibandingkan periode yang sama tahun 2010 sebesar US$ 9,22 miliar.

Menurut Menteri Perdagangan, Mari Elka Pangestu, peningkatan ekspor di awal tahun ini jauh di atas target pertumbuhan ekspor nonmigas. “Pola ekspor bulanan seperti di Januari biasanya lebih rendah karena faktor musiman, tapi bulan Januari tahun ini naik di luar target,” katanya.

Kementerian Perdagangan menargetkan tahun ini pertumbuhan ekspor bulanan nonmigas hanya sekitar 12% hingga 15%. “Ini merupakan kabar gembira, karena nilai ekspor nonmigas Januari 2011 berada di atas rata-rata nilai ekspor bulanan selama tahun 2010 sebesar US$ 10,8 miliar,” tambahnya.

Peningkatan ekspor nonmigas di bulan Januari 2011 didorong oleh sektor pertambangan, industri, dan pertanian. Mari bilang, ketiga faktor tersebut membuat neraca perdagangan ekspor nonmigas pada Januari 2011 mengalami surplus sebesar US$ 2,4 miliar dibandingkan tahun Januari 2010 yang hanya US$ 1,7 miliar.

Dari ketiga sektor tersebut, kontribusi terhadap kinerja ekspor nonmigas berasal dari sektor industri yakni sebesar US$ 9,3 miliar. Angka ini naik 38,8% dari ekspor Januari 2010 yang sebesar US$ 6,7 miliar.Pasalnya, kenaikan ekspor barang-barang dari sektor industri ditandai oleh proses hilirisasi produk Indonesia yang terus digalakkan oleh pemerintah.
Sepanjang 2011 pemerintah menargetkan nilai ekspor perdagangan Indonesia secara keseluruhan dapat mencapai US$ 139 miliar hingga US$ 146 miliar.

Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu menungkapkan, dalam konferensi pers di Gedung Kementerian Perdagangan, Rabu (05/01), pertumbuhan ekspor tahun ini didorong oleh asumsi ekonomi dunia 2011 akan tumbuh 4,2 persen, juga kenaikan harga komoditas di pasar internasional dan tumbuhnya investasi sebesar 10-11 persen.

 

Salah satu faktor yang mendorong peningkatan ekspor nonmigas tahun 2011, jelasnya, didukung oleh pertumbuhan tujuh komoditas yaitu tekstil dan produk tekstil (TPT), alas kaki, otomotif, kertas, kelapa sawit (CPO) dan produk turunannya, kakao olahan dan biji kakao, serta kopi yang didorong oleh pulihnya ekonomi AS dan Eropa serta berkembangnya pasar non tradisional, terutama di Eropa Timur seperti Rusia, Ukrania, Kazakhstan, dan Asia Tengah.

Ekspor produk kertas juga ditargetkan meningkat sejalan dengan adanya langkah-langlah pemerintah mengamankan akses pasar produk kertas indonesia yang kerap menghadapi hambatan.

Untuk ekspor TPT ditargetkan naik lebih dari 10 persen, ekspor alas kaki lebih dari 20 persen, ekspor CPO atau crude palm oil dan turunannya ditargetkan tumbuh 16 persen. Dan ekspor kakao olahan ditargetkan tumbuh 61 persen, ekspor biji kakao tumbuh 22 persen, ekpor kopi 5 persen, otomotif 10 persen dan kertas 20-25 persen ,ekspor kerajinan 1 persen. Ekspor kakao olahan ditargetkan meningkat 61persen. Pertumbuhan itu terjadi akibat meningkatnya kapasitas produksi kakao olahan menjadi 280 ribu ton pada tahun 2011.

Selain itu,konsistensinya kebijakan pemerintah mendorong proses pengolahan kakao di dalam negeri dan adanya program Gerakan Nasional Kakao untuk Peningkatan Mutu dan Produksi Biji Kakao berpeluang meningkatkan ekspor kakao dan produk kakao. Sedangkan ekspor kopi diperkirakan naik 5persen yang diharapkan dari peningkatan produksi serta penetrasi pasar ke sejumlah negara tujuan baru.

Menurut catatan dari Badan Pusat Statistik (BPS), ekpor Indonesia pada November 2010 mengalami peningkatan sebesar 6,52 persen atau US$ 15.338,2 juta dibandingkan Oktober 2010 sebesar US$ 14.399,5 juta. Peningkatan ekspor November 2010 itu disebabkan oleh meningkatnya ekspor nonmigas sebesar 8,90 persen yaitu dari US$ 11.557,7 juta menjadi US$ 12.586,3 juta. Sementara ekspor migas malah mengalami penurunan sebesar 3,17 persen dari US$ 2.841,9 juta menjadi US$ 2.751,9 juta.

Penurunan eskpor migas itu disebabkan oleh menurunnya ekspor hasil minyak sebesar 24,08 persen menjadi US$ 230,1 juta dan ekspor gas turun sebesar 11,13 persen menjadi US$ 1.362,3 juta. Sedangkan ekspor minyak mentah naik sebesar 15,27 persen menjadi US$ 1.159,5 juta.

Sementara itu, volume ekspor migas November 2010 terhadap Oktober 2010 untuk hasil minyak dan gas menurut data Pertamina dan BP ( dulunya “ British Petroluem ) Migas masing-masing turun 26,43 persen dan 6,98 persen, sebaliknya ekspor minyak mentah naik 9,57 persen.

Harga minyak mentah Indonesia di pasar dunia naik dari US$ 82,26 per barel di Oktober 2010 menjadi US$ 85,07 per barel di November 2010. Selain itu faktor lain dari meningkatnya ekspor non migas Indonesia adalah seperti yang diungkapkan beliau “Meningkatnya nilai ekspor beberapa komoditi utama terutama pada karet & barang dari karet, mesin/peralatan listrik dan mesin-mesin/pesawat mekanik selama bulan Maret  2011 tersebut,” .

Dirjen Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan Dr Deddy Saleh. Pada acara sosialisasi kebijakan umum di bidang ekspor hasil pertanian dan kehutanan di Palembang, Senin (14/3), Deddy Saleh, Dikatakannya, kinerja ekspor Januari 2011 memperlihatan penguatan ekspor nonmigas terus berlanjut di tahun 2011. Sementara surplus negara perdagangan nonmigas Januari 2011 mencapai nilai 2,4 miliar dolar Amerika Serikat, meningkat sebesar 39 persen dibandingkan Januari 2010. Sedangkan neraca perdagangan migas bulan Januari 2011 mengalami defisit 0,5 miliar dolar AS.

Peningkatan nilai impor migas terjadi akibat kenaikan harga minyak, sebagai dampak dari krisis politik di Mesir dan sebagian negara produsen di Tumur Tengah, paparnya. Selanjutnya, kontribusi 10 produk utama dalam ekspor nonmigas sebesar 47,5 persen, paling dominan peningkatan komoditas sawit, produk laut, kakao lebih didorong oleh kenaikan harga. Sedangkan produk manufaktur seperti TPT, elektronik, alas kaki, otomotif karena peningkatan jumlah volume.

Khusus produk sawit terutama minyak sawit mentah (CPO), menurut Deddy, dari total produksi sekarang kisaran 17 juta ton per tahun, akan terus ditingkatkan hingga mencapai 40 juta ton per tahun. Menurut dia, dari total produksi CPO Indonesia itu, hingga saat ini mencapai 90 persennya diekspor, sedangkaan sisanya untuk konsumsi dalam negeri.

Ekopor CPO nasional selama ini paling dominan ditujukan ke China dan India, sedangkan negara-negara lainnya tidak terlalu besar, ucapnya tanpa merinci angka yang pasti. Namun demikian, kata dia, peningkatan tertinggi terjadi pada ekspor sektor industri naik 38,4 persen, lebih tinggi dari kenaikan Januari 2010.

Sedangkan konsentrasi lima pasar ekspor Indonsia, sekarang ini telah mengalami perubahan menjadi Jepang, China, Amerika Serikat (AS), India dan Singapura. China menggeser posisi AS, sedangkan India menggeser posisi Singapura dan Malaysia. Oleh karena itum melalui sosialisasi tersebut, diharapkan pihak pengusaha berbagai produk hasil kekayaan alam di Tanah Air menghadapi perdagangan bebas sekarang ini dapat memanfaatkan preferensi surat keterangan asal (SKA) atau keringanan biaya ekspor.

Perjanjian perdagangan bebas antarsejumlah negara konsumen itu, dengan memanfaatkan SKA tersebut para ekportir atau pengusaha akan mendapatkan keringanan antara lain bea masuk, ujarnya, menjelaskan.

Peningkatan ekspor non migas Indonesia , menempatkan Indonesia berada di posisi 30 sebagai Negara eksportir terbesar di dunia. Data tersebut diungkapkan oleh Menteri Perdagangan Marie Elka Pangestu yang disampaikan oleh Staf Ahli Kepala Balitbang Pengembangan Kebijakan Perdagangan Kemendag Heru Sutanto. Heru menyampaikan data tersebut di Fakultas Ekonomi dalam kuliah umum bertemakan Strategi Menghadapi Perdagangan Pasar Bebas.

Dia menyebutkan, 79 persen ekspor Indonesia didominasi oleh bidang nonmigas. Sementara untuk ekspor migas, Indonesia mengalami gejolak yang signifikan akibat pengaruh krisis global. “Krisis 2008 berpengaruh terhadap ekspor migas Indonesia, surplus neraca perdagangan justru terjadi pada bidang non migas,” kata Heru di FEUI, Depok, Senin (2/5/11).

Surplus neraca perdagangan yang terjadi pada sektor non migas yakni mencapai USD2,4 miliar. Hal itu meningkat 56 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu. “Pada Februari 2011 surplus mencapai USD2,4 miliar justru sektor migas defisit USD3,1 juta, hal itu terjadi akibat dampak krisis Mesir,” tandasnya.

Untuk permasalahan tarif ekspor , Uni Eropa berjanji akan membantu Indonesia jika kerja sama perdagangan ini disepakati kedua belah pihak, yakni dengan merekomendasikan penurunan tarif ekspor sebesar 95 persen.

“Vision Group merekomendasikan untuk menurunkan tarif ekspor sebesar 95 persen di kedua belah pihak dengan masa pemberlakuan yang berbeda-beda pastinya. Karena kita kan masih negara berkembang, mereka sudah maju,” ujar Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, usai konferensi pers di Hotel Kempinski, Jakarta, Rabu (4/5/2011).

Dirinya pun mengemukakan bahwa rencana pembahasan kerja sama perdagangan Indonesia-Uni Eropa ini tidak akan membebani petani dan industri dalam negeri.

“Justru mereka akan bantu mengembangkan produk kita, bagaimana mengekspor barang ke Eropa yang secara teknik maupun keamanannya sudah tinggi,” lanjutnya.

Selain itu, Uni Eropa juga akan membantu proses sertifikasi industri. Indonesia. Di sektor pertanian, Uni Eropa menjanjikan akan membantu produksi agar tetap ramah lingkungan tanpa membebani petani.

Adapun setelah proses penjajakan pertemuan hari ini, akan dilakukan sosialisasi di Indonesia mulai 16 Juni mendatang dan di Eropa mulai 18 Juni. Sementara pembahasan tentang perkembangan kerja sama ini akan dilakukan di Eropa pada akhir tahun ini.

Namun untuk pembatasan ekspor bahan baku , harus segera direalisasikan dalam rangka mendorong penerapan konsep koridor ekonomi nasional yang akan diresmikan pada 20 Mei mendatang.

Wakil Menteri Perindustrian Alex SW Retraubun mengatakan, diperlukan adanya terobosan-terobosan baru guna meningkatkan daya saing industri nasional, yang salah satunya adalah koridor ekonomi. Koridor ekonomi, kata dia, bertujuan untuk  memudahkan industri mendapatkan bahan baku. Maka dari itu, imbuhnya,  pemerintah harus memprioritaskan industri pengolahan bahan baku di dalam negeri.

“Kebijakan terbesarnya adalah from now on, tidak ada lagi ekspor bahan baku gelondongan.  Ini akan berlaku setelah Presiden SBY meresmikan koridor ekonomi pada 20 Mei nanti,”kata Alex di Makassar, Senin (25/4/2011).

Alex menjelaskan, kebijakan ekspor bahan baku yang selama ini masih dilakukan justru akan mematikan industri nasional. “Ini merupakan kebodohan dan kemalasan suatu bangsa,” ucapnya.

Alex menegaskan, ekspor bahan baku akan terus berkurang apabila industri pengolahan bisa mengalami peningkatan yang signifikan. Menurut Alex, regulasi hukum yang akan mendasari hal tersebut kemungkinan berupa Peraturan Presiden (Perpres).

“Kalau sudah ada dasar hukum yang jelas, nanti semua instansi akan ikut merealisasikan pengurangan ekspor bahan baku dan mendorong peningkatan koridor ekonomi,”jelasnya.

Dalam penerapan koridor ekonomi, kata Alex, terutama untuk pengembangan industri pengolahan non migas, membutuhkan dana investasi sekitar Rp735,96 triliun. Adapun investasi industri makanan, minuman dan tembakau adalah Rp220,77 triliun, alat angkut, mesin dan peralatannya Rp247,28 triliun, industri pupuk, kimia, dan barang dari karet Rp94,54 triliun, serta tekstil, barang kulit dan alas kaki sekitar Rp63,39 triliun.

“Secara konsep (koridor ekonomi) ini sangat bagus, dan kalau itu gagal juga berarti memang kita ditakdirkan Tuhan menjadi negara yang tidak bisa berkembang,”tutur Alex.

Kemudian dilihat dari peristiwa pembajakan kapal Indonesia yang beranak buahkan (ABK)  WNI , tidak hanya  berdampak pada keamanan saja , tetapi juga dari segi faktor ekonomi . hubungan perdagangan antara Somalia dan Indonesia turut menjadi korban akibat pembajakan ini.

Menurut Duta Besar Somalia Muhammud Alow Borow, kondisi keamanan di sekitar perairan Somalia saat ini mengganggu arus lalu lintas perdagangan. Tak pelak gangguan ini juga dialami perdagangan antara Indonesia dengan Somalia.

“Indonesia dengan Somalia memiliki volume perdagangan yang cukup tinggi. Komoditi yang cukup tinggi dalam perdagangan ini adalah sarung,” menurut Dubes Borow di Kedutaan Besar Somalia, Jumat (15/4/2011).

Dikatakannya, perdagangan sarung antara Indonesia dengan Somalia mencapai 20 juta per tahun sebelum pembajakan marak terjadi. “Kini jumlah terus merosot. Perdagangan sarung Indonesia ke Somalia saat ini berkurang hingga 60 persen,” lanjut Dubes Borow.

Selain sarung, salah satu komoditi lain yang cukup terkena imbas negatif akibat pembajakan ini adalah semen. Tiap tahun perdagangan semen Indonesia ke Somalia terus menurun. Tetapi Dubes Borow tidak menyebutkan secara rinci berapa penurunan perdaganan semen tersebut.

“Semen Indonesia kualitasnya sangat bagus. Satu sak semen, dapat digunakan untuk sebagai bahan pencampur pasir sebanyak 20 kali. Sayangnya pengiriman semen saat ini terganggu,” tutur Borow.

Seperti diketahui, 20 Anak Buah Kapal (ABK) WNI disandera oleh pembajak Somalia sejak 16 Maret lalu. Bersamaan dengan itu proses negosiasi tengah berlangsung untuk mengatur kebebasan mereka. Pemerintah Indonesia sepertinya lebih memilih jalur diplomasi dibanding operasi militer untuk kebebasan para ABK.

Dengan adanya kasus pembajakan yang telah terlihat oleh masyarakat Indonesia , Pemerintah dan perusahan bersangkutan diharap segera mengkoordinasikan bagian pengiriman barang ekspor dengan bagian keamanan tambahan seperti memfasilitasi kapal dengan peralatan kapal “anti perompak” , didampingi dengan aparat keamanan seperti Polisi dan atau TNI AL , atau bisa memberikan pembekalan “reaksi anti perompak” bagi para awak kapal . Ini tidak hanya berlaku bagi perdagangan antar Somalia saja ,tetapi juga menyeluruh ke setiap eksportir-eksportir di seluruh Indonesia  .

Tidak hanya cukup sampai disitu saja , dengan sumber daya alam Indonesia yang konon cukup melimpah di harap pemerintah  dan masyarakat mengambil sikap bijaksana dengan melakukan pembatasan ekspor yang berdampak merugikan nantinya bagi pihak Indonesia maupun warga setempat. Para pemilik perusahaan juga harus bijaksana dengan memberikan kesempatan untuk mensejahterakan warga setempat dan  bernegosiasi dengan warga setempat atas pemakaian lahan atau asset yang nantinya akan dipakai bersama .Kemudian diharapkan pemerintah maupun seluruh instansi yang terkait melakukan pembudidayaan kembali bagi SDA yang bisa di budidayakan , dan melakukan penghematan terhadap SDA yang tidak dapat dibudidayakan .

PENUTUP

Demikian makalah yang dapat saya sampaikan tentang ekspor non migas Indonesia . Semoga makalah ini dapat membuka mata kita semua agar kita selalu optimis atas segala dan apa yang kita miliki di Negara Indonesia ini.  Dengan makalah ini ,semoga dapat memotivasi para pengusaha-pengusaha kecil , menengah, maupun besar agar dapat lebih memanfaatkan dan mengelola kekayaan alamnya sendiri agar lebih bisa bermanfaat bagi seluruh warga Indonesia itu sendiri . apabila ada kekurangan mohon dimaafkan.  Terima kasih

Leave a Reply

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s